• Powered By

  • Blog Stats

    • 1,983 Visitors

Batak Culture

BATAK, APA ARTINYA?

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu.

Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjuntak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di surat kabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di surat kabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah di antara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.

Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek“, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).

Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.

TEMPAT BERMUKIM

Batak adalah nama sebuah suku di Indonesia. Suku Batak kebanyakan bermukim di Sumatra Utara.

Dalam tata pemerintahan Republik Indonesia yang mengikuti tata pemerintahan Kolonial Belanda, setiap sub suku berdiam dalam satu kedemangan yang kemudian dirubah menjadi Kabupaten setelah Indonesia merdeka.

Sub suku Batak Toba berdiam di Kabupaten Tapanuli Utara yang wilayahnya meliputi Ajibata (berbatasan dengan Parapat), Pulau Samosir, Pakkat, serta Sarulla. Empat tahun terakhir ini, Kabupaten Tapanuli Utara sendiri telah dimekarkan menjadi beberapa Kabupaten yakni Kabupaten Tapanuli Utara (ibukota Tarutung), Kabupaten Toba Samosir (ibukota Balige), Kabupaten Samosir (ibukota Pangururan), Kabupaten Humbang (ibukota Siborong-borong), Kabupaten Humbang Hasundutan (ibukota Dolok Sanggul).

Rumah Batak

Sub suku Batak Karo mayoritas berdiam di Kabupaten Karo dengan ibukota Kabanjahe, namun sebagian juga tersebar di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Mereka yang bermukim di wilayah Kabupaten Karo kerap disebut sebagai Karo Gunung, sementara yang di Kab. Langkat dan Deli Serdang kerap disebut dengan Karo Langkat.

Sub suku Batak Alas bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Populasi mereka meningkat paska Perang Aceh, dimana pada masa perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda, suku Batak Toba selalu mengirimkan bala bantuan. Setelah perang usai, mereka banyak yang bermukim di wilayah Aceh Tenggara.

Sub suku Batak Pakpak terdiri atas 5 sub Pakpak yaitu Pakpak Kelasen, Pakpak Simsim, Pakpak Boang, Pakpak Pegagan, bermukim di wilayah Kabupaten Dairi yang kemudian dimekarkan pada tahun 2004 menjadi dua kabupaten yakni: Kabupaten Dairi (ibukota Sidikalang)dan Kabupaten Pakpak Bharat (ibukota Salak). Suku Batak Pakpak juga berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah.Suku Pakpak yang tinggal diwalayah tersebut menamakan diri sebagai Pakpak Kelasan. Dalam jumlah yang sedikit, suku Pakpak juga bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.

Sub suku Batak Simalungun mayoritas bermukim di wilayah Kabupaten Simalungun (ibukota Pematang Siantar) namun dalam jumlah yang lebih kecil juga bermukim di kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Asahan.

Sub suku Batak Mandailing dan Angkola bermukim di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (ibukota Padang Sidempuan) dan Kabupaten Mandailing Natal (sering disingkat dengan Madina dengan ibukota Penyabungan). Kabupaten ini berdiri sejak tahun 1999 setelah dimekarkan dari Kabupaten Tapsel.

Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Tengah (ibukota Sibolga)sejak dulu tidak didominasi oleh salah satu sub suku batak. Populasi Batak Toba cukup banyak ditemui di daerah ini, demikian juga dengan Batak Angkola dan Mandailing. Dalam jumlah yang kecil, Batak Pakpak juga bermukim di daerah ini khususnya Kota Barus. Hal ini dimungkinkan karena Tapanuli Tengah terletak di tepi Samudera Hindia yang menjadikannya sebagai pintu masuk dan keluar untuk melakukan hubungan dagang dengan dunia internasional. Salah satu kota terkenal yang menjadi bandar internasional yang mencapai kegemilangannya sekitar abad 5 SM-7 SM adalah Kota Barus.

SUKU BATAK

Suku Batak terdiri dari beberapa sub suku yang berdiam di wilayah Sumatra Utara, Kota Subulussalam, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara. Sub suku Batak adalah:

FALSAFAH SUKU BATAK

Secara umum, suku Batak memiliki falsafah adat Dalihan Na Tolu yakni Somba Marhula-hula (hormat pada pihak keluarga ibu/istri) Elek Marboru (ramah pada keluarga saudara perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak dalam hubungan semarga). Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan orang Batak.

diambil: dari berbagai sumber

16 Responses

  1. blm ada isinya…
    tapi sdh kebayang bakal gmn isinya

    :D

  2. Btw dalam falsafah batak boleh ngga kira2 cewe batak nikah sama cowo’ yang bukan batak ato sebaliknya ??
    :D

  3. boleh den…bole lah…sapa yang bilang ga boleh heheehe
    napa den?? kau ada tertari ma cewek batak a..
    hmm….

  4. hmm,
    sapa den? ayo sebut… :D

  5. Sep.. dah penjelasannya, wa sendiri aja gak tau falsafah batak, huehuehuehue

    Horas ma sude!!!!

  6. kamu batak apa dif ?

  7. @nabil : Batak Toba suk :)

  8. untuk seluruh orang batakkkk…aku cari jodoh..hahahahaha

  9. @emma: trus dihubungi kemana??

  10. ngomong2 klo g salah,,klo dari ilmu antropologi,, batak masih ada hubungan sama orang toraja ya,,begitu bukan dif?

  11. knapa orang tua berpesan kalo kita harus nikah ssma orng batak….?
    pdahal mnurt Qu, seiman aja jg cukup,,,,
    uy, knalin Q, Putra H siregar, asli orang Batak,lahir, tk , sd, smp, sma, sma Negri 1, anagktan 2006,,d pangururannn,

    n skarang lg Kuliah D UNPAd,Bdg.

    so yg knal, Hub E-mail qu yahhh. to d no 02292652977

    God Blesss YOOOU ‘_’

  12. @Putra par Pangururan
    penyebabnya ada banyak hal lae…salah satunya ya karena orang tua kita ingin kita tetep meneruskan garis keturunan sesama orang batak…karena ikatan kekeluargaan orang batak itu sangat kuat..
    ya itu aja sih yang bisa aq kasih tau:) maap kalau kurang memuaskan.. tapi sebenarnya tidak masalah klo buka sama orang batak.. yang penting seiman:)

    HORAS!!

    Tuhan memberkati

  13. [...] Batak Culture [...]

  14. putra par pangururan.
    emang dah mau nikah ya………..

    mungkin bener kata dify,kara orang tua itu ingin kta barada digaris keluaraga yaitu batak….

    supaya kita juga tidak menghilangkan budaya kita sendiri n orang tua juga tidak susah mengambil hati permaennya nantinya. gitu……………..

    tapi semuanya itu tetep kembali kekitanya octreeeeeeeeee……..gbu

  15. Kira2 bisa tlg beritahu gak tentang stereotipe/generalisasi orang batak. Misal kalo bicara mesti nyaring ato orang batak itu kasar (misal loh). ini buat kelas CCU ku. thx, GBU

  16. @tya, maksudnya gimana tya???

Leave a Reply